| here |
HAI.
Selamat tanggal
14 dibulan oktober. Semoga hari ini berkah dan besok semakin berkah.
Hari ini saya libur sekolah karena cuti
bersama. Besok idul adha. Menyenangkan karena nggak harus bangun malam untuk
belajar, sepanjang hari cuma tidur tidur dan tidur, online seharian—scroll tl,
buka fb, ngeblog, dll. Duh, betapa menyenangkannya hidup kalau begini terus,
hahaha.
Walaupun terlihat
nyantai nggak ada kerjaan, otak saya terus bekerja memikirkan sesuatu. Menyebalkan,
karena sebenarnya saya nggak mau mikirin hal ini karena bikin pusing. Tapi kalau
bukan saya yang mikirin, siapa lagi?
Jadi, beberapa
minggu yang lalu, kelas saya kedatangan tukang promosi dari sebuah kampus. Kesan
pertama dengan pembicaranya adalah menyenangkan. Dia terus berpromosi sambil
menyadarkan sesuatu kepada kami: masa depan.
Entah saya yang
mudah terpengaruh atau apa, saya kemakan omongan dia. saya mau kayak dia.
karena si tukang promosi bisa membaca sifat orang, dll. Dan itu mengingatkan
saya pada satu cita-cita yang sudah lama saya kubur: menjadi psikolog.
Dibagian akhir, TP (Tukang Promosi) mengajak
kami untuk psikotest minat dan bakat. Wuhu! Saya dan teman-teman pasti mau. Berbekal
uang 25 ribu, minggu depannya kami datang ke kampus mereka. Kebetulan sedang
ada perbaikan gedung. Kami dibawa kesebuah ruangan yang tidak terlalu besar,
seukuran kelas biasa disekolah saya. hanya ada satu papan tulis, satu meja
dosen, +/- tiga puluh bangku mahasiswa dan dua AC disudut ruangan. Lantai berwarna
putih dan tembok yang begitu bersih membuat ruangan ini terasa sedikit sunyi
dan hampa tapi nyaman.
Kami mengisi
psikotest selama hampir dua jam. Ada test yang menyuruh kami gambar, menghitung
angka dari bawah keatas. Pokoknya kalau kata teman-teman saya, kayak UN. *oke,
mereka lebay*.
Sabtu berikutnya,
kami datang lagi kesana untuk ambil hasil psikotestnya. Dan inilah yang membuat
saya galau seketika.
Saya berharap
banget bisa konsultasi sama si TP, sialnya saya kebagian sama temennya si TP
yang cewek. Pertama kali duduk, si Mbak TP menatap saya penuh ingin tahu sambil
bertanya, “kamu lagi kenapa waktu ngisi psikotest?”
Waduh. Saya mikir,
kayaknya nggak lagi kenapa-kenapa deh. Saya fokus-fokus aja. Mungkin yah, kalau
sehari-harinya saya emang lagi mikirin novel terus. (ada 2 novel nganggur yang
mau banget saya baca di rumah, tapi saya harus konsentrasi belajar atau
konsentrasi saya terpecah nantinya). Tapi memangnya persoalan novel itu
pengaruh?
Dan jengjeng! Lihat
hasilnya saya itu bodoh banget. ahak. Ahak. Miris. Numeric saya persentasenya paling
rendah. Dan hey! Bagaimana bisa? Sehari-harinya saya selalu berhitung-berhitung
dan berhitung. Apapun yang saya kerjakan biasanya selalu berhubungan dengan
angka.
Tapi kemudian,
saya mencoba berdamai dengan diri sendiri. Yah, mungkin memang itu
kenyataannya. Saya nggak bisa berhitung. Dan saya harus menerima hal itu.
Si Mbak TP terus
menerus menerangkan hasil psikotest sambil promosi kampus mereka. Ah, saya
kepalang muak dengan hasil psikotest dan ternyata si Mbak TP nggak memberikan
solusi bagaimana caranya saya memperbaiki itu dan menjawab pertanyaan saya
tentang jurusan yang cocok untuk saya. dia menyarankan saya masuk jurusan yang
ada dikampus itu (YAIYALAH, SECARA!)
Akhirnya, saya
kembali ke bangku dengan tampang sebete-betenya. Saya duduk disamping teman
sambil mengamati mereka. Dan mereka terus bertanya, “lo kenapa?”
Saya balik
nanya, “emang gue kenapa?”
Mereka bilang, “plis
deh. Kita tiga tahun kenal lo. Lo kayak gini pasti ada apa-apa.”
TERSERAH-____-
saya lagi badmood karena ternyata harapan saya mendapat pencerahan ditempat ini
buyar semua karena Mbak TP yang terus menerus promosi kampus.
Lalu, saya dan
kedua teman mendekati si TP yang lagi menjelaskan hasilnya ke teman saya yang
lain. Enak banget kalau sama TP ini. Kita dikasih pencerahan, dikasih solusi,
dibaca sifat-sifat kita supaya bisa memperbaiki diri. Ah, saya iri!
Kebetulan, dua
teman saya yang lain itu kebagian dengan Mbak TP dan juga nggak puas. Mereka mau
bertanya kepada TP tentang sifat mereka, dll. Saya langsung ikutan dan
mengambil tempat disamping TP.
Kemudian, saya
menyerahkan hasil psikotestnya.
“Otak kiri kamu macet, nih. Berfikir pakai logika, otak kanannya bagus.”
“iyalah, kan
saya kidal.” Jawab saya dengan nada nyebelin. (orang bete, harus dimaklumin. Ha
ha.)
“oh, ternyata benar. Dia nih orangnya sensitif banget, rapuh. Hatinya nggak bisa disenggol sedikit aja. Dia juga sok pahlawan.”
Demi apapun,
saya benci dengar kata ‘sok pahlawan’ itu. dan teman-teman mentertawakan saya.
“maksudnya gini, dia sebenarnya punya maksud baik mau nolongin orang. tapi begitu melihat persoalannya dan dia nggak bisa, dia nyerah. Udah deh. Lo minta tolong yang lain aja.”
Lalu kami semua
tertawa. HAHAHAHASIALHAHAHA itu benar! -_-
“kamu kalau kerja setengah-setengah dalam segala hal. Lihat aja nih dari grafik yang kamu buat. Kamu bisa menyelesaikan sampai atas, tapi kamu stuck ditengah dan itu rata, semuanya begitu.”
OKAY. Itu benar,
lagi-lagi.
“orangnya simpel abis. Gak mau ribet dan membuat sesuatu menjadi sangat simpel. moodnya paling susah ditebak. Kadang baik, kadang bete, kadang baweeel banget, kadang pendieeem banget, kadang kepo, kadang seneng banget, kadang jutek, pokoknya serba kadang-kadang.”
“anaknya lemah lembut dan rapuh. Semangat diawal doang. Setelahnya... turun... turun... turun... kalau sudah bosan dengan sesuatu, sebaik apapun moodnya, tapi sudah jenuh, gak akan disentuh. Tujuan hidupnya belum jelas. udah keliatan, kamu tuh ngerjain sesuatu tanpa tahu apa tujuannya. Setelah ini kamu mau kemana, nggak ada.”
Hati saya rada
mencelos karena itu benar dan saya jadi sedih. saya pun bisa lihat kok dari
grafik yang saya buat, memang kelihatan. dan saya benci mengakuinya.
“gak bisa denger keributan. Dia kalau dibawa ke pameran atau apalah pasti stres.”
“jadi saya bagusnya kuliah apa selain yang ada disini?”
“coba saya tanya, kamu maunya apa?”
“nah itu, saya bingung.”
“oke kamu pilih. (disuguhi pilihan)”
“saya lebih seneng mengamati. Dan terkadang melakukan.”
“psikolog cocok, manajemen juga.” (FYI, saya ngisi peminatan psikolog waktu itu).
“saya suka nulis, kalau saya masuk sastra?”
“bisa sih. tapi sastra nggak hanya belajar menulis.”
“nah itu. saya suka nulis, tapi saya gak mau kuliah sastra sebenarnya. Dan saya bingung, sebenarnya saya niat atau gak di psikolog. Taudeh.”
“anak IPS banget sih kamu.” katanya sambil nunjuk saya. Begitukah?
Saya emang
labil-___-
Lalu saya bilang, “gini, Kak. Sebenarnya saya tahu kemampuan saya bukan disini. tapi, saya seperti udah ada di zona nyaman. Jadi, saya stuck disini aja. Gak bisa dan gak berani untuk keluar dari zona nyaman itu.”
“Dek, ibaratnya gini. Kamu lagi naik perahu kecil ditengah laut yang luas. Kita nggak tahu kan, suatu hari nanti apakah ada ombak besar yang menghantam kita atau nggak. Misalnya ada, masa iya kamu mau diem-diem aja diperahu kecilmu itu? diterkam ombak.”
OH IYA, YA.
“jadi, saya harus gimana?”
“nah itu PR kamu. kamu harus tentuin tujuan kamu.”
YA AMPUN. Matik cajalah.
Huhuhu, saya benci kalau harus membuat keputusan L
Jadi, saya harus
menemukan perahu yang lebih besar. perahu yang dapat memberikan keamanan dan
kenyamanan pada saya. perahu yang nggak membuat saya bosan. Perahu yang bisa
membuat saya terlihat besar pula didalamnya. Perahu yang pantas untuk saya.
perahu yang memang ditakdirkan untuk saya bernaung.
Pada akhirnya,
saya nggak kecewa-kecewa banget hari itu karena bisa konsultasi dengan si TP.
Dari dalam
kamar, saya terus menerus memikirkan kata-kata si TP. Saya harus berubah. Saya nggak
mau mengerjakan sesuatu setengah-setengah terus. Saya nggak mau sok pahlawan. Saya
nggak mau semangat diawal doang. Saya nggak mau moodnya cepaaaat sekali berubah
seperti ini karena membuat orang disekitar saya kebingungan dalam menghadapi
saya.
Setelah dilihat
analisanya, saya tuh buruk seburuk-buruknya orang, ya? saya malas. Saya gak mau
ribet. Saya rapuh dan gak bisa disenggol hatinya. Saya gak bisa
hitung-hitungan. Saya sok pahlawan. Saya gak bisa/ gak mau diatur & terikat
dengan sesuatu. Moodnya cepat berubah. Apa bagusnya sih jadi saya? T_T
TAPI setelah
dipikir ulang, hey! Ini hanya psikotest. Mungkin memang hasilnya benar, tapi
bukankah test seperti ini dapat berubah hasilnya tergantung kondisi? Ini bukan
akhir dari segalanya. Walaupun saya nggak punya kemampuan dibidang numeric,
tapi kalau saya ingin dan saya berusaha? Nothing
impossible, bukan? Walaupun saya akan kesulitan, tapi jika memang ini jalan
saya, saya pasti mampu! Seberat apapun hal, kalau dijalani dengan senang hati
dan rasa bersyukur akan terasa lebih ringan. Saya percaya itu.
Sisi baiknya
adalah saya sudah tahu apa saja kekurangan dalam diri sehingga bisa belajar
untuk memperbaikinya. Saya nggak mau stuck disifat buruk saya ini. Setiap manusia
berubah. Termasuk saya.
Omong-omong
tentang si TP, dia itu.... amazing. Hahaha! Saya mau kayak dia, bisa baca
karakter orang. saya pengin kasih nasihat-nasihat (walaupun sotoy, ha!) ke
orang. dan dia itu menyenangkan. lihat, terlihat sekali bukan kalau saya
tersihir kata-kata dia. ah, hampir saya lupa. Itu memang pekerjaan dia. XD
Dan, saya jadi
berpikir pengin punya pacar kayak si TP. Asik diajak diskusi, orangnya suka
cerita (fyi, saya suka mendengarkan orang cerita), rapih, care, wawasannya
luas, menyenangkan. HAHAHA. Gak lah, saya gak jatuh cinta saya si TP. Saya cuma
kagum. Dia itu keren. :D
Balik lagi ke
permasalahan saya. kemarin, saya udah bikin mind
map walaupun masih acak-acakan. Tapi seenggaknya, semedi saya dikamar nggak
terlalu sia-sia karena kalau besok teman-teman nanyain bagaimana dengan diri
saya, saya udah punya gambaran. Saya sudah punya tujuan hidup. alhamdulillah^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar