Senin, 14 Oktober 2013

balada psikotest

here

HAI.
Selamat tanggal 14 dibulan oktober. Semoga hari ini berkah dan besok semakin berkah.

 Hari ini saya libur sekolah karena cuti bersama. Besok idul adha. Menyenangkan karena nggak harus bangun malam untuk belajar, sepanjang hari cuma tidur tidur dan tidur, online seharian—scroll tl, buka fb, ngeblog, dll. Duh, betapa menyenangkannya hidup kalau begini terus, hahaha.

Walaupun terlihat nyantai nggak ada kerjaan, otak saya terus bekerja memikirkan sesuatu. Menyebalkan, karena sebenarnya saya nggak mau mikirin hal ini karena bikin pusing. Tapi kalau bukan saya yang mikirin, siapa lagi?

Jadi, beberapa minggu yang lalu, kelas saya kedatangan tukang promosi dari sebuah kampus. Kesan pertama dengan pembicaranya adalah menyenangkan. Dia terus berpromosi sambil menyadarkan sesuatu kepada kami: masa depan.

Entah saya yang mudah terpengaruh atau apa, saya kemakan omongan dia. saya mau kayak dia. karena si tukang promosi bisa membaca sifat orang, dll. Dan itu mengingatkan saya pada satu cita-cita yang sudah lama saya kubur: menjadi psikolog.

 Dibagian akhir, TP (Tukang Promosi) mengajak kami untuk psikotest minat dan bakat. Wuhu! Saya dan teman-teman pasti mau. Berbekal uang 25 ribu, minggu depannya kami datang ke kampus mereka. Kebetulan sedang ada perbaikan gedung. Kami dibawa kesebuah ruangan yang tidak terlalu besar, seukuran kelas biasa disekolah saya. hanya ada satu papan tulis, satu meja dosen, +/- tiga puluh bangku mahasiswa dan dua AC disudut ruangan. Lantai berwarna putih dan tembok yang begitu bersih membuat ruangan ini terasa sedikit sunyi dan hampa tapi nyaman.

Kami mengisi psikotest selama hampir dua jam. Ada test yang menyuruh kami gambar, menghitung angka dari bawah keatas. Pokoknya kalau kata teman-teman saya, kayak UN. *oke, mereka lebay*.

Sabtu berikutnya, kami datang lagi kesana untuk ambil hasil psikotestnya. Dan inilah yang membuat saya galau seketika.

Saya berharap banget bisa konsultasi sama si TP, sialnya saya kebagian sama temennya si TP yang cewek. Pertama kali duduk, si Mbak TP menatap saya penuh ingin tahu sambil bertanya, “kamu lagi kenapa waktu ngisi psikotest?”

Waduh. Saya mikir, kayaknya nggak lagi kenapa-kenapa deh. Saya fokus-fokus aja. Mungkin yah, kalau sehari-harinya saya emang lagi mikirin novel terus. (ada 2 novel nganggur yang mau banget saya baca di rumah, tapi saya harus konsentrasi belajar atau konsentrasi saya terpecah nantinya). Tapi memangnya persoalan novel itu pengaruh?

Dan jengjeng! Lihat hasilnya saya itu bodoh banget. ahak. Ahak. Miris. Numeric saya persentasenya paling rendah. Dan hey! Bagaimana bisa? Sehari-harinya saya selalu berhitung-berhitung dan berhitung. Apapun yang saya kerjakan biasanya selalu berhubungan dengan angka.

Tapi kemudian, saya mencoba berdamai dengan diri sendiri. Yah, mungkin memang itu kenyataannya. Saya nggak bisa berhitung. Dan saya harus menerima hal itu.

Si Mbak TP terus menerus menerangkan hasil psikotest sambil promosi kampus mereka. Ah, saya kepalang muak dengan hasil psikotest dan ternyata si Mbak TP nggak memberikan solusi bagaimana caranya saya memperbaiki itu dan menjawab pertanyaan saya tentang jurusan yang cocok untuk saya. dia menyarankan saya masuk jurusan yang ada dikampus itu (YAIYALAH, SECARA!)

Akhirnya, saya kembali ke bangku dengan tampang sebete-betenya. Saya duduk disamping teman sambil mengamati mereka. Dan mereka terus bertanya, “lo kenapa?”

Saya balik nanya, “emang gue kenapa?”

Mereka bilang, “plis deh. Kita tiga tahun kenal lo. Lo kayak gini pasti ada apa-apa.”

TERSERAH-____- saya lagi badmood karena ternyata harapan saya mendapat pencerahan ditempat ini buyar semua karena Mbak TP yang terus menerus promosi kampus.

Lalu, saya dan kedua teman mendekati si TP yang lagi menjelaskan hasilnya ke teman saya yang lain. Enak banget kalau sama TP ini. Kita dikasih pencerahan, dikasih solusi, dibaca sifat-sifat kita supaya bisa memperbaiki diri. Ah, saya iri!

Kebetulan, dua teman saya yang lain itu kebagian dengan Mbak TP dan juga nggak puas. Mereka mau bertanya kepada TP tentang sifat mereka, dll. Saya langsung ikutan dan mengambil tempat disamping TP.

Kemudian, saya menyerahkan hasil psikotestnya.

“Otak kiri kamu macet, nih. Berfikir pakai logika, otak kanannya bagus.”

“iyalah, kan saya kidal.” Jawab saya dengan nada nyebelin. (orang bete, harus dimaklumin. Ha ha.)

“oh, ternyata benar. Dia nih orangnya sensitif banget, rapuh. Hatinya nggak bisa disenggol sedikit aja. Dia juga sok pahlawan.”

Demi apapun, saya benci dengar kata ‘sok pahlawan’ itu. dan teman-teman mentertawakan saya.

“maksudnya gini, dia sebenarnya punya maksud baik mau nolongin orang. tapi begitu melihat persoalannya dan dia nggak bisa, dia nyerah. Udah deh. Lo minta tolong yang lain aja.”

Lalu kami semua tertawa. HAHAHAHASIALHAHAHA itu benar! -_-

“kamu kalau kerja setengah-setengah dalam segala hal. Lihat aja nih dari grafik yang kamu buat. Kamu bisa menyelesaikan sampai atas, tapi kamu stuck ditengah dan itu rata, semuanya begitu.”

OKAY. Itu benar, lagi-lagi.

“orangnya simpel abis. Gak mau ribet dan membuat sesuatu menjadi sangat simpel. moodnya paling susah ditebak. Kadang baik, kadang bete, kadang baweeel banget, kadang pendieeem banget, kadang kepo, kadang seneng banget, kadang jutek, pokoknya serba kadang-kadang.”

“anaknya lemah lembut dan rapuh. Semangat diawal doang. Setelahnya... turun... turun... turun...  kalau sudah bosan dengan sesuatu, sebaik apapun moodnya, tapi sudah jenuh, gak akan disentuh. Tujuan hidupnya belum jelas. udah keliatan, kamu tuh ngerjain sesuatu tanpa tahu apa tujuannya. Setelah ini kamu mau kemana, nggak ada.”

Hati saya rada mencelos karena itu benar dan saya jadi sedih. saya pun bisa lihat kok dari grafik yang saya buat, memang kelihatan. dan saya benci mengakuinya.

“gak bisa denger keributan. Dia kalau dibawa ke pameran atau apalah pasti stres.”
“jadi saya bagusnya kuliah apa selain yang ada disini?”
“coba saya tanya, kamu maunya apa?”
“nah itu, saya bingung.”
“oke kamu pilih. (disuguhi pilihan)”
“saya lebih seneng mengamati. Dan terkadang melakukan.”
“psikolog cocok, manajemen juga.” (FYI, saya ngisi peminatan psikolog waktu itu).
“saya suka nulis, kalau saya masuk sastra?”
“bisa sih. tapi sastra nggak hanya belajar menulis.”
“nah itu. saya suka nulis, tapi saya gak mau kuliah sastra sebenarnya. Dan saya bingung, sebenarnya saya niat atau gak di psikolog. Taudeh.”
“anak IPS banget sih kamu.” katanya sambil nunjuk saya. Begitukah?
Saya emang labil-___-

Lalu saya bilang, “gini, Kak. Sebenarnya saya tahu kemampuan saya bukan disini. tapi, saya seperti udah ada di zona nyaman. Jadi, saya stuck disini aja. Gak bisa dan gak berani untuk keluar dari zona nyaman itu.”

“Dek, ibaratnya gini. Kamu lagi naik perahu kecil ditengah laut yang luas. Kita nggak tahu kan, suatu hari nanti apakah ada ombak besar yang menghantam kita atau nggak. Misalnya ada, masa iya kamu mau diem-diem aja diperahu kecilmu itu? diterkam ombak.”

OH IYA, YA.

“jadi, saya harus gimana?”
“nah itu PR kamu. kamu harus tentuin tujuan kamu.”

YA AMPUN. Matik cajalah. Huhuhu, saya benci kalau harus membuat keputusan L

Jadi, saya harus menemukan perahu yang lebih besar. perahu yang dapat memberikan keamanan dan kenyamanan pada saya. perahu yang nggak membuat saya bosan. Perahu yang bisa membuat saya terlihat besar pula didalamnya. Perahu yang pantas untuk saya. perahu yang memang ditakdirkan untuk saya bernaung.

Pada akhirnya, saya nggak kecewa-kecewa banget hari itu karena bisa konsultasi dengan si TP.

Dari dalam kamar, saya terus menerus memikirkan kata-kata si TP. Saya harus berubah. Saya nggak mau mengerjakan sesuatu setengah-setengah terus. Saya nggak mau sok pahlawan. Saya nggak mau semangat diawal doang. Saya nggak mau moodnya cepaaaat sekali berubah seperti ini karena membuat orang disekitar saya kebingungan dalam menghadapi saya.

Setelah dilihat analisanya, saya tuh buruk seburuk-buruknya orang, ya? saya malas. Saya gak mau ribet. Saya rapuh dan gak bisa disenggol hatinya. Saya gak bisa hitung-hitungan. Saya sok pahlawan. Saya gak bisa/ gak mau diatur & terikat dengan sesuatu. Moodnya cepat berubah. Apa bagusnya sih jadi saya? T_T
TAPI setelah dipikir ulang, hey! Ini hanya psikotest. Mungkin memang hasilnya benar, tapi bukankah test seperti ini dapat berubah hasilnya tergantung kondisi? Ini bukan akhir dari segalanya. Walaupun saya nggak punya kemampuan dibidang numeric, tapi kalau saya ingin dan saya berusaha? Nothing impossible, bukan? Walaupun saya akan kesulitan, tapi jika memang ini jalan saya, saya pasti mampu! Seberat apapun hal, kalau dijalani dengan senang hati dan rasa bersyukur akan terasa lebih ringan. Saya percaya itu.

Sisi baiknya adalah saya sudah tahu apa saja kekurangan dalam diri sehingga bisa belajar untuk memperbaikinya. Saya nggak mau stuck disifat buruk saya ini. Setiap manusia berubah. Termasuk saya.

Omong-omong tentang si TP, dia itu.... amazing. Hahaha! Saya mau kayak dia, bisa baca karakter orang. saya pengin kasih nasihat-nasihat (walaupun sotoy, ha!) ke orang. dan dia itu menyenangkan. lihat, terlihat sekali bukan kalau saya tersihir kata-kata dia. ah, hampir saya lupa. Itu memang pekerjaan dia. XD

Dan, saya jadi berpikir pengin punya pacar kayak si TP. Asik diajak diskusi, orangnya suka cerita (fyi, saya suka mendengarkan orang cerita), rapih, care, wawasannya luas, menyenangkan. HAHAHA. Gak lah, saya gak jatuh cinta saya si TP. Saya cuma kagum. Dia itu keren. :D

Balik lagi ke permasalahan saya. kemarin, saya udah bikin mind map walaupun masih acak-acakan. Tapi seenggaknya, semedi saya dikamar nggak terlalu sia-sia karena kalau besok teman-teman nanyain bagaimana dengan diri saya, saya udah punya gambaran. Saya sudah punya tujuan hidup. alhamdulillah^^




Tidak ada komentar: