Kakak saya adalah seorang gadis berkacamata. Seumur hidup, dia baru dua atau tiga kali ganti kacamata. Kemarin, dia baru ganti kacamata lagi.
Kacamata tersebut dibeli dari hasil meminta kepada Bapak di sebuah optik melawai. Harganya cukup fantastis menurut saya, satu juta lebih untuk sebuah kacamata berbingkai cokelat dan bermerek terkenal.
Biasanya, seperti adik-adik diseluruh dunia lainnya saya iri atau gimanaaa gitu ketika kakak mendapatkan barang yang lebih dari milik saya. Tapi kali ini sama sekali nggak. Saya fine-fine aja. Terserah dia mau beli seharga satu milyar pun saya bodo amat.
Barusan, saya lihat kacamata miliknya yang diletakan di meja kecil samping tempat tidur. Saya membuka tempatnya yang terkesan elegan dengan balutan warna perak dan pink. Kacamata berbingkai coklat bulat yang agak tipis nampak anggun dengan sebuah lapnya yang tebal dan tak kalah mewah.
Saya bermaksud meminjam lap kacamata tersebut untuk mengelap kacamata milik saya. Fyi, saya selalu membersihkan kacamata dengan cara yang salah. Yaitu dengan menghah-hah-in kacanya lalu mengelapnya dengan kerudung atau benda apapun.
Kebetulan nih ada lap bagus, pikir saya senang.
Begitu ingin mengelapnya, kakak saya bilang, "aaaah! Jangan dipake lapnya! Taro! Taro! Aaah jangan dilap!"
"YaAllah, cuma minjem lap," sahut saya, refleks.
"gak! Gak! Cepet taro! Taro!"
Dengan hati gusar, saya menaruh kacamata dan lapnya dimeja tersebut dengan asal lalu meninggalkan kamarnya.
Pelit baget, cih.
Dan sampai ketika saya menulis ini, hati saya masih rada dongkol. Mungkin emang saya yang lagi sensitif atau mau marah-marah atau apalah tapi yang jelas saya benci responnya.
Hei, kalau ternyata kacamata seharga satu juta itu membuat kakak saya menjadi amat sangat pelit (mungkin maksudnya menjaga kacamata dan lapnya agar tidak terkena virus dari tangan saya, okesih. tapi saya tetap nggak suka caranya melakukan penolakan ke saya) lebih baik kacamata itu nggak pernah ada. Lebih baik kacamata itu patah dan dia tetap pakai kacamata yang lama agar tidak pelit dan tidak semenyebalkan itu. Saya jahat, ya?
Yeah, ini keributan kecil seperti biasa yang terjadi di rumah. Saya yang sensitif harus berhadapan dengan kakak yang berwatak keras (kalau ngomong suka dengan nada ngebentak dan sentak sengor--hal yang saya benci)
Doa saya malam ini, Ya Allah jadikan saya hamba yang mudah mengiklaskan sesuatu. kuatkan hati saya. Jadikan saya anak yang tegar dan bermanfaat bagi oranglain. Aamiin. :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar